Innalillahi wainnaillaihi rojiun, telah meninggal dunia Ibu NH Dini di RS Elizabeth Semarang.
Itulah sepenggal pesan yang dibagikan Arie Siregar di grup kepenulisan di WA yang kuikuti, tadi malam. Aku ternganga. Agak goyah hingga harus berpegangan. Segera kutanyakan kevalidan pesan itu padanya, tidak percaya.
Mengenang Keindahan Hidup NH Dini |
Segera kuhubungi Artie dan Winda Oetomo dua sahabat yang teramat dekat dengan Eyang. Winda tak membalas. Artie shock.
Menurut Arie Siregar, Bu Bambang Sulis, sahabat kental beliau yang mengabari kepergian penulis legendaris Indonesia itu di grup penulis. Selasa, 04 Desember 2018, Eyang NH Dini berpulang ke Rahmatullah karena kecelakaan lalu lintas di jalan tol Semarang.
Pertama kali bertemu |
Penulis kelahiran Semarang, 29 Februari 1936 ini memiliki nama asli Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin. Ia meninggal saat dalam perjalanan akan berobat tusuk jarum yang rutin dilakukannya.
Peluncuran buku Gunung Ungaran |
Perjalanan hidup beliau berliku-liku mulai dari masa kecil, ketika menjadi pramugari maskapai penerbangan ternama hingga pernikahannya dengan Diplomat Perancis Yves Coffin, yang membuahkan dua anak, bercerai dan sempat menderita penyakit kronis, semua ditulisnya dengan detail di buku-buku seri cerita kenangan.
Banyak hal yang bisa kita pelajari dari seorang NH Dini. Diantaranya:
1. Bukunya Penuh Hikmah
Ya, buku-bukunya yang long lasting, tak lekang oleh zaman memberi banyak hikmah dan perenungan seperti Namaku Hiroko (1977), Pada Sebuah Kapal (1972), hingga Gunung Ungaran (2018). Dalam bukunya, ia mengajarkan perempuan tentang kesabaran, rasa syukur dan kemandirian hidup.
2. Ketekunan Menulis
Hal ini patut dicontoh para penulis. Pada usia 82 tahun, beliau tetap menulis dan menerbitkan buku baru. Eyang tetap energik dan aktif di berbagai kegiatan. Termasuk bedah buku, menghadiri undangan acara sastra hingga ke Frankfurt Jerman, hingga membantu mahasiswa yang meneliti bukunya untuk skripsi dan tesis.
Penulis yang tekun dan semangat |
Eyang NH Dini rajin mencatat segala peristiwa di dalam buku catatannya. Buku inilah jadi sumber inspirasi dan ide-idenya. Juga jadi bahan tulisannya. Segala hal di sekelilingnya bisa menjadi sumber cerita, sumber inspirasi.
"Penulis harus jeli dan peka terhadap sekelilingnya," ujar beliau.
3. Hidup teratur
"Penulis harus jeli dan peka terhadap sekelilingnya," ujar beliau.
3. Hidup teratur
Beliau punya jadwal hidup yang teratur dan disiplin Makan dan tidur pada jam atau waktu yang sama. Menurut Bruder Heri Suparno, pengelola wisma yang ditinggalinya, Setiap pagi kegiatan Eyang adalah berkebun, lalu dilanjutkan dengan menulis dari pukul 9 pagi hingga pukul 12 siang.
Sorenya, eyang berkebun lagi dan malam kembali menulis hingga pukul 00. Duh, bagaimana denganku yang menulis saja angot-angotan?
Beliau juga rutin ikut senam lansia bersama teman-temannya di wisma lansia Harapan Asri, Jalan Tusam, Banyumanik, Semarang.
Sorenya, eyang berkebun lagi dan malam kembali menulis hingga pukul 00. Duh, bagaimana denganku yang menulis saja angot-angotan?
Beliau juga rutin ikut senam lansia bersama teman-temannya di wisma lansia Harapan Asri, Jalan Tusam, Banyumanik, Semarang.
Berbincang akrab dengan Eyang |
Ketajaman pikirannya tidak diragukan lagi, walau ia sudah sepuh. Ingatan filmis yang ia syukuri sebagai anugerah dari Tuhan, sangat membantunya menulis buku terutama seri cerita kenangan lebih detail.
Ia suka membaca dan melahap berbagai buku bacaan walau tidak untuk jangka waktu lama karena vertigo yang diderita Eyang. Beliau sering dikirimi buku oleh kedua anaknya.
4. Sayang Keluarga
NH Dini memiliki sepasang buah hati, Pierre dan Lintang yang menetap di luar negeri. Keduanya adalah hasil pernikahannya dengan bekas diplomat Prancis, Yves Coffin.
Beliau memilih tinggal di Wisma Lansia Harapan Asri di Banyumanik, Semarang agar lebih praktis dan tidak repot mengurus rumah. Ya, beliau sangat mandiri, ya.
Pierre Louis Padang Coffin |
Ketika putra beliau Pierre Louis Padang terkenal sebagai sutradara Despicable Me, banyak media menuliskan betapa malang nasib NH Dini. Sakit dan terlunta-lunta di usia senja, tidak dihiraukan anak-anak beliau.
Padahal kenyataannya, walau tinggal berjauhan, mereka terus berhubungan. Eyang kerap mengirimkan makanan Indonesia kesukaan Padang dan Lintang. Begitu pula sebaliknya.
Bahkan, putri sulungnya, Marie Claire Lintang yang tinggal di Kanada, tahun ini menerima tawaran pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah internasional di Bandung karena ingin berdekatan dengan ibunya.
Bisa dibayangkan betapa bahagianya Eyang. Bahkan sebelum meninggal, Eyang berada di Bandung bersama Lintang selama dua minggu.
Bahkan, putri sulungnya, Marie Claire Lintang yang tinggal di Kanada, tahun ini menerima tawaran pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah internasional di Bandung karena ingin berdekatan dengan ibunya.
Bisa dibayangkan betapa bahagianya Eyang. Bahkan sebelum meninggal, Eyang berada di Bandung bersama Lintang selama dua minggu.
5. Mencintai Tanaman
Ya, beliau sangat mencintai lingkungan juga hewan. Hal itu tercermin dari buku-bukunya. Juga suasana tempat tinggalnya yang selalu asri dengan tanaman yang rimbun. Di manapun ia tinggal, rumahnya akan selalu dipenuhi berbagai jenis tanaman.
Menurut Winda, beberapa waktu lalu Eyang membagikan banyak tanaman kesayangannya seperti anggrek pada Winda dan teman-temannya. Seperti sebuah firasat, bahwa beliau takkan bisa lagi mengurus tamannya yang asri.
Sebelumnya, Ibu Sulis Bambang sahabat beliau juga menerima wasiat kelak setelah meninggal, Eyang meminta agar dikremasi.
Saat melayat jenazah beliau hari ini di Wisma Harapan Asri, Banyumanik, aku menyaksikan ratusan pelayat yang berduka. Melintasi batas, yang hadir dari berbagai kalangan. Tak pandang usia, ras, agama dan suku bangsa, semuanya hadir karena mencintai sosok tangguh Eyang. NH Dini, betapa engkau dicintai.
Sebelumnya, Ibu Sulis Bambang sahabat beliau juga menerima wasiat kelak setelah meninggal, Eyang meminta agar dikremasi.
Saat melayat jenazah beliau hari ini di Wisma Harapan Asri, Banyumanik, aku menyaksikan ratusan pelayat yang berduka. Melintasi batas, yang hadir dari berbagai kalangan. Tak pandang usia, ras, agama dan suku bangsa, semuanya hadir karena mencintai sosok tangguh Eyang. NH Dini, betapa engkau dicintai.
Persemayaman terakhir |
Tak percaya rasanya menuliskan ini, Selamat jalan Eyang NH. Dini, obrolan santai dan akrab kita akan selalu terpatri di benakku. Akan kujadikan semangatmu untuk selalu berkarya sebagai inspirasi selamanya. Sugeng Tindak, Eyang, bahagia selalu di sisi Sang Pencipta...we love you so much..
Aku menggemari novel2nya dari aku jaman SMP. Duh, jadi terharu banget ya Mbak. Belum kesampaian ketemu langsung, malah udah meninggal. Bacanya sambil sesenggukan kih, huhuhu...
ReplyDeleteIya mba, ngga nyangka banget..
DeleteSedih bacanya. Semoga beliau berbahagia dan tenang di sisi Tuhan.
ReplyDeleteSediiih, nggak bisa lagi dengerin Eyang bercerita dengan suaranya yang lembut
ReplyDeleteSalah satu penulis produktif di Indonesia, tulisannya enak dibaca..selamat jalan eyang..
ReplyDeleteWalaupun tdk mengenal beliau scr pribadi...tp ikut merasa kehilangan. Selamat jalan Eyang,nama indahmu akan sll dikenang.
ReplyDeleteTulisan nya kaka bikin terharu ...
ReplyDeleteIjin share
Meski belum pernah bertemu beliau, tapi ketika mendengar cerita teman2 tiap bertemu beliau serasa ikut dekat juga dengan beliau. Semoga Eyang NH. Dini bahagia selalu di surga
ReplyDeleteSalah satu penulis legend di Indonesia. Semoga semangatnya bisa menular ke kita2 ya mbak
ReplyDeleteIkut pilu saat tau Eyang NH Dini tiada. Sudah suratan takdir ya Dew :( Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisiNya. Semoga karya2nya terus menginspirasi meski beliau sudah tiada.
ReplyDeleteSungguh sosok NH dini sangat menginspirasi sekali ya mbak dew. Turut berduka. Semoga beliau amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT
ReplyDeleteSungguh sosok NH dini sangat menginspirasi sekali ya mbak dew. Turut berduka. Semoga beliau amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT
ReplyDeleteKehidupannya yang teratur, mencintai bunga, dan seorang penulis dengan karya-karya gemilang, kepergiannya meninggalkan luka 😥 Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisiNya.
ReplyDeletekaget banget waktu denger kabar eyang nggak ada. eyang termasuk salah satu "legenda" dalam dunia menulis, selalu kagum sama beliau. semoga eyang tenang di sisi Nya
ReplyDeleteAku sedih baca ini. Walau tak pernah bertemu muka, namun dia serasa akrab di kalbu. Dari membaca bukunya aku tahu betapa ia sangat peduli menjaga kesehatan. Itu yang paling jadi insoirasiku, mau hidup sehat samoai tua seperti dirinya
ReplyDeleteHuaa.. Baper nih, mbak dew. Blm sempet ketemu padahal tinggal selangkah lagi 😢
ReplyDeleteIndah sekali Dedew.. rest in peace eyang ...
ReplyDeletePenulis hebat ya, Mbak Dedew.
ReplyDeleteSaya membaca buku beliau Namaku Hiroko dan Pada sebuah Kapal, saat saya masih SMP. Bukunya pinjam di perpustakaan wilayah.
Beliau tetap jadi inspirator menulis banyak orang.
Bunda sudah ngefens sama Sastrawati alm NH Dhini, sampe masih nyimpen bukunya yg kl gak salah best seller lho La Barka. Sedih ya kehilangan alm.
ReplyDeletehai mbak... Baru mampir aku nih ke blognya mbk.. keren, eyang NH Dini emang penuh semangat yang patut dicontoh generasi selanjutnya, salam kenal ya mbak dari #jejakbiru
ReplyDeleteMewek
ReplyDeleteKenal novel ibu NH Dini itu sejak SMU. Salah satu novelis yang sangat produktif hingga usia senja. Kemarin lihat di berita video kecelakaannya, sedih banget. Penggalan cerita dengan anaknya yang sangat menyukai masakan khas ibunya itu bikin terharu.
ReplyDeleteApalagi pas tau beliau tinggal di wisma itu atas keputusannya sendiri setelah menjual asetnya. Salut banget!
Selamat jalan ibu, karyamu akan selalu abadi.<3
Waktu Mbak Wati bilang beliau berpulang, aku juga kaget. Beliau ini penulis lama yang gak kulupa. Di usianya yg senja masih sangat semangat menulis. Semoga beliau diterima di sisiNya
ReplyDeleteSaya belum baca Mbak yang karya beliau terakhir itu, jadi pengen membaca. Seorang penulis yang meninggalkan banyak karya selalu dikenang ya Mbak...
ReplyDeletelegendaris banget penulis yg satu ini ya mba
ReplyDeleteSedih kemarin waktu melihat jazad Eyang. Kita nggak bisa lagi mendengar suara lembut Eyang ya mba
ReplyDeleteSemoga karya-karya beliau menjadi Inspirasi y mbk...
ReplyDeleteKenal NH Dini krn tugas bahasa indonesia waktu smp, sejak itu suka sastra. Selamat jalan Eyang
ReplyDeleteAku ga sangkanya meninggalnya karena kecelakaan mba tak kirain karena memang sakit sudah tua :) karyanya abadi ya mba takkan lekang oleh waktu
ReplyDeleteNamaku Hiroko. Itu buku pertama beliau yg saya baca saat saya smp. RIP eyang Dini
ReplyDeleteSemoga peroleh tempat mulia di sisi Allah. Saya tidak begitu kenal beliau, hanya tahu buku-bukunya dari Pipiet Senja.
ReplyDeleteBismillah semoga diberikan tempat terbaik untuk Eyang, di sisi-Nya.
ReplyDeleteJangan sedih ya Teh. Semuanya bagian dari perjalanan hidup
Sejak Sd saya udah mulai baca bukunya. Karyanya penuh manfaat..semoga karyanya tetap abadi
ReplyDeleteKisah NH Dini menjadi mood booster-ku untuk kembali menulis buku. Aku pribadi belum pernah membaca buku NH Dini, karena jamannya SMP aku tumbuh dengan goosebumps dll
ReplyDeleteAduh aku terharu bacanya :(
ReplyDeleteNH Dini ini buku2nya menemaniku di perpustakaan dr mulai aku SD sampai SMA.
Alhamdulillah ya beliau sempat kumpul sama anaknya walau cuma sebentar sebelum meninggal. Moga beliau beristirahat dengan tenang...
Aku mengenal karyanya bahkan sejak aku SD. Ya Allah ternyata beliau itu orang Semarang ya. Jadi ingin membaca lebih banyak lagi karya-karyanya.
ReplyDeleteSalut sama Eyang NH Dini, hidupnya teratur dan selalu berusaha untuk tepat waktu. Bahkan hoby bercocok tanam juga.
ReplyDeleteSemoga beliau beristirahat dengan tenang. Dan karyanya akan tetap dikenang oleh kami..
Masya Allah, NH Dini tetap produktif di usia senja. Berarti beliau sendiri ya tinggal di Indonesia sementara anak-anaknya di luar negeri. Lansia tangguh!
ReplyDelete